Kamis, 28 Juli 2016

JALAN MENUJU TUHAN - MENYATU DENGAN TUHAN

PEKALONGAN, Padepokan Al - Nawadir - * Jalan menuju Tuhan tak terhingga jumlahnya, tetapi jalan itu hanyalah satu langkah : Yaitu " Melangkah keluar dari dirimu sendiri hingga engkau sampai pada Tuhan. " Meniadakan diri ( fana' ) adalah untuk menyadari bahwa diri tidak ada , dan tidak ada sesuatu yang maujud , kecuali Tuhan ( tauhid ) . Hasits " Orang yang mengenal dirinya sendiri adalah orang yang mengenal Tuhannya "  , menunjukkan bahwa ia yang mengenali dirinya sendiri bukan sebagai zat yang mengada ( 'adam ) dan mengetahui bahwa zat yang ada secara sejati adalah Tuhan ( wujud ) .

Pengetahuan ini tidak bisa didapat melalui nalar , sebab Yang Abadi dan Tak Tercipta tidak dapat digapai oleh apa yang sudah tercipta., hal ini tidak dapat dipelajari , tetapi diberikan melalui hidayah Tuhan. Yang menerimanta adalah  " hati " ( qalb ), dalam bentuk spiritual, bukan hati dalam bentuk darah dan daging.
Dalam kalimat yang bagus sekali ,Syaikh Abu Sa'id Ibn Al- Khair merujuk pada prinsip Ilahiah  yang dia sebut sirr  ( rahasia / misteri ) Allah , yaitu nurani atau kesadaran mengenai Tuhan, dan melukiskannya sebagai sesuatu yang didalamnya Tuhan berbicara pada  " hati " .

Ketika menjawab pertanyaan " Apakah ikhlas itu " , dia berkata :

Nabi telah mengatakan bahwa ikhlas adalah sirr Ilahiah di hati dan jiwa manusia , sirr adalah obyek perenungan murni Tuhan yang kemudian dipenuhi dengan perenungan murni Tuhan itu. Siapapun yang menyatakan Tuhan adalah satu, kepercayaan dalam penyatuan ilahiah bergantung pada sirr tersebut. 

Ketika diminta menjelaskan, dia berujar sebagai berikut :

Sirr tersebut adalah substansi kelembutan Tuhan - sebab Dia Maha lembut terhadap hamba- hamba - Nya ( QS. AL- Syura. [42 ] : 19 ) , dan substansi ini dilahirkan oleh karunia dan kasih Tuhan, bukan oleh pencapaian dan tindakan manusia. Pada mulanya dia menciptakan kebutuhan dan keinginan dan penderitaan di hati manusia ; kemudian Dia merenungkan kebutuhan dan penderitaan itu, dan dalam karunia dan kasih - Nya tertanam dalam hati tersebut substansi spiritual ( lathifah ) yang tersembunyi dari pengetahuan malaikat dan nabi . Substansi itu disebut sirr Allah, dan itulah ikhlas....Sirr yang murni tersebut adalah kekasih dari orang- orang yang menganut doktren keesaan. Ia abadi dan tidak dapat lenyap, sebab ia hidup dalam perenungan Tuhan tentangnya. Ia menjadi milik Sang Khalik : makhluk - makhluk tidak turut ambil bagian didalamnya, dan (keberadaan nya) di dalam tubuh  adalah punjaman. Siapapun yang memilikinya berarti  " hidup " ( hayy) dan siapapun yang tidak memilikinya adalah " hewan " ( hayawan ) . Terdapat perbedaan yang amat besar antara " hidup " dan " hewan " 

Sekarang akan saya terjemahkan beberapa khotbah dan ucapan Abu Sa'id mengenai jalan menuju Tuhan melalui penyangkalan diri.

Dia ditanya, " Kapan orang akan terbebas dari keinginannya ? "
Kemudian Tuhan" Ketika Tuhan membebaskan ia " jawabnya ", kebebasan ini bukanlah efek dari upaya keras manusia, melainkan dari kemurahan dan pertolongan Tuhan. Pertama - tama , Dia memberinya keinginan untuk mencapai tujuan ini. Kemudian Dia membuka pintu taubat kepadanya. Lantas ,Dia bimbing ia kedalam mujahadah, sehingga ia terus berusaha dan untuk sementara waktu ia berbangga diri atas usahanya tersebut  , sambil berfikir bahwa ia telah meningkat atau mencapai sesuatu. Akan tetapi setelah ia jatuh dalam keputusan dan tidak merasakan kebahagiaan . Kemudian ia mengetahui bahwa upayanya tersebut tidak murni ,  tetapi ternoda , ia memohon ampun atas ibadah yang ia anggap sebagai ( hasil ) jerih payahnya sendiri , dan setelah menyadari bahwa hal tersebut dilakukan oleh kemurahan dan pertolingan Tuhan lewat Guru spiritualnya , ia baru merasa salah , karena menganggap  semua itu sebagai usaha dirinya sendiri. Ketika hal itu terjadi, perasaan bahagia masuk kedalam hatinya. Kemudian Tuhan membuka pintu keyakinan ( yaqin ) kepadanya sehingga untuk sementara waktu ia menerima pemberian sesuatu apa pun  dari setiap orang serta menerima dan menanggung kehinaan , ia mengetahui dan yaqin Siapa yang memberikan semua itu, dan keraguan terhadap- Nya kenyap dari hatinya.
Kemudian Tuhan  membuka pintu cinta( mahabah ) kepadanya, dan disini egoisme juga menampakkan dirinya sesaat dan ia cenderung berbuat kesalahan ( malamah ) yang berati bahwa meski dalam cintanya kepada Tuhan, ia tidak takut pada apa pun yang bisa  menimpa dirinya dan tidak menanggapi segala hinaan . namun ia tetap berfikir  " aku mencintai " dan terus demikian hingga ia menyadari bahwa Tuhanlah sebenarnya yang mencintai dirinya dan mempertahankan dirinya dalam kondisi mencintai , dan hal ini merupakan hasil dari kelembutan dan cinta ilahiah , bukan dari usahanya sendiri.

Kemudian Tuhan membuka pintu penyatuan ( tauhid ) kepadanya dan nenjadikan ia tau bahwa semua tindakan bergantung pada Tuhan Yang Maha kuasa. pada saat ini ia merasa bahwa semua adalah Dia, dan semua adalah oleh Dia, dan semua adalah milik Dia  ; bahwa Dia telah meletakkan kesombongan diri didalam makhluk- makhluk - Nya untuk membuktikab kepada mereka , bahwa Dia dalam ke Maha Kuasaan taqdir - Nya , dan mereka dalam meyakini  kepercayaan yang salah, sebab kemaha kuasaan adalah Sifat- Nya, sehingga ketika mereka melihat Sifat- Sifat - Nya mereka harus tahu bahwa Dia adalah Tuhan. apa yang sebelumnya hanya desas- dedus, sekarang ia ketahui secara intuitif ketika ia merenungkan ciptaan Tuhan. lantas sepenuhnya ia menyadari bahwa tudak oynya haj untuk berkata " Aku " atau milik ku. Pada tahap ini ia melihat kelemahan dirinya sangat ingin lenyap dari dirinya, kemudian ia menjadi bebas dan tenang. Ia menginginkan apa yang diinginkan Tuhan ; keinginan dirinya sendiri telah lenyap, ua dibebaskan dari keinginan dirinya dan mencapai kedamaian serta kebahagiaan di kedua dunia.

*Pertama,  tindakan adalah perlu , kedua , pengetahuan, supaya engkau tahu bahwa  engkau tidak mengetahui apa- apa dan engkau bukanlah siapa- siapa. Ini bukan hal yang mudah untuk diketahui. Hal ini merupakan sesuatu yang dapat secara tepat  dipelajari dengan ajaran, tidak pula dapat dijahitkan dengan jarum atau dikaitkan dengaan tambang. Ini adalah karunia Tuhan.

Pandangan hati adalah yang utama, bukannya perkataan lidah . Engkau tidak akanbpernah bebas dari dirimu sendiri ( nafs) hinga engkau melenyapkannya. Mengatakan " Tiada Tuhan selain Allah " saja tidaklah cukup. Kebanyakan orang yang mengucapkan pengakuan keyakinan secara verbal adalah seorang yang syirik dalam hati, dan syirik adalah dosa yang tak terampuni. Seluruh tubuhmu penuh dengan keraguan dan syirik. Engkau harus membuangnya dan mencapi kedamaian .
Engkau tidak akan pernah mempercayai Tuhan hingga engkau menyangkal dirimu sendiri . Dirimu sendiri yang menjauhkan dari Tuhan dan menyatakan " begini dan begitu ".

Katakan " Allah " dan tetap teguh disitu. Tetap teguh adalah seperti ini, ketika engkau telah mengatakan " Tuhan " , engkau sudah tidak harus lagi berkata atau berfikir mengenai makhluk , hingga mereka bukan lagi seperti ciptaan......Cintai yang satu yang tidak akan berhenti  mencintai ketika engkau berhenti, agar engkau menjadi sesuatu yang tidak akan pernah  berhenti mencintai.

Selama seseorang mempertimbangkan kemurnian dan ketaatannya, ia akan mengatakan ;  " Engkau dan aku " , tetapi ketika ia menyadari  kemurahan dan karunia Tuhan, ia akan mengatakan " Engkau...Engkau. " dan kemudian ibadahnya menjadi kenyataan.



@ A. Ramdhon# diterjemahkan dari : Studies in Islamic Mysticism / R.A. Nicholson.terbitan Cambridge.


0 komentar :

Poskan Komentar

Back To Top