Senin, 01 Agustus 2016

KHALIFAH ALLAH - MANUSIA JELMAAN TUHAN

PEKALONGAN, Padepokan Al- Nawadir - *  Sebelum membahas gagasan yang ditawarkan oleh doktrin Khalifah Allah atau wakil tetinggi, dimana posisi dunia dimasukkan pada wilayah hubungan manusia dengan Pencipta - Nya, terlebih dahulu saya minta anda semua merenungkan kembali sosok penyair mistis yang kepribadiannya dapat ditemukan dalam ungkapan " bahasa emosi dan bahasa imajinasi daripada bahasa intelek ", dia memandang rendah buku - buku pelajaran dan pengetahuan tradisional, dan juga menyalahkan metode ilmiah dan filsafat al- Gazali sebagai bentuk pengasingan terhadap jiwa tasawuf yang sejati, sementara pada sisi lain al- Gazali juga memandang sebelah mata terhadap estetika yang diperkenalkan Jalalad- Din ar- Rumi dalam bidang hukum dan moral.
Pada taraf tertentu ajaran dalam kitab  Ihya dan kitab Masnawi terkadang sama, namun dari segi karakter penulisnya tetap berbeda.

Gazali menyusun kitabnya ( ihya ) secara sistematik , dan jelas, sementara Jalal ad- Din menyusun kitabnya penuh dengan bahasa kiasan, bertele- tele, membosankan dan sering tak jelas ; namun Gazali hampir bisa dikatakan tidak bisa menyamainya dalam kehebatan dan antusiasme perasaan, orisinalitas dan kekuatan berfikir atau dalam kebebasan berekspresi.
Sebagaimana kita ketahui , pengalaman mistik dalam diri Ibn al- Farid juga ia dapatkan dalam kondisi kemanunggalan sehingga ia dapat mengetahui dirinya sendiri dengan cara  memahami semua realitas Tuhan. Adapun contoh dari syair Jalal ad- Din yang menggambarkan fenomena diatas adalah sebagai berikut :

Aku kehilangan sifat jelekku, aku menderita sakit,
Aku adalah awan dan hujan, aku telah mengguyur padang dan rumput.

Dari syair diatas menjadi jelas bahwa segala sesuatu adalah Tuhan dan Tuhan adalah segala sesuatu  .

Untuk membuat diri seseorang amat sempurna, yang tidak mengerjakan sesuatu kecuali ia anggap sebagai gambaran Tuhan, dan Zat Tuhan yang Abadi seharusnya mengakar kuat dalam diri kita , sebab Dia ada sebelum, dan Yang mengadakan, diri kita .Dia ada sebelum pengetahuan kita dan kita dapat menyembah serta berkhayal terhadap Tuhan hanya melalui  ibadah kita. Inilah kehidupan yang berjiwa agamis, yang pada intinya demi bersatu dengan Tuhan. Dalam syairnya Jalal ad- Din mengatakan :

" Engkau Sendiri yang memilihku di alam maya - pada ini,
Akankah Engkau menyengsarakanku dalam kesedihan ?
Hatiku laksana pena dalam genggaman tangan- Mu,
Engkau adalah penyebab- Nya , jika aku sedih atau murung.
Kecuali apa yang Kau kehendaki ,apa yang bisa aku kehendaki ?
Kecuali apa yang Engkau tunjukkan, apa yang aku lihat ?
Jika Engkau memeliharaku, maka itulah aku;
Jika Engkau menjadikan sesuatu , maka aku adalah sesuatu.
Dalam bejana itulah, tempat dimana Engkau memberikan warna dalam jiwaku.
Siapa aku ? Apa yang yang Engkau cinta dan apa yang Engkau benci ?."

Syair ini menimbulkan pertanyaan tentang kejahatan, kesedihan dan dosa. Jalal ad- Din  sebagai ulama, seharusnya memperlakukan ini ( pesan syair diatas ) dalam betuk yang praktis dan mudah dipahami seperti Plotinus, dengan caranya ia mampu meminimalkan kejahatan ,dan bahkan menjadi hilang, tetapi  pada saat dia mengetahui bahwa semuanya sungguh tidak ada kaitannya dengan Tuhan, maka ia sadar bahwa pada kenyataannya semua kembali pada manusia.

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa Tuhan menciptakan manusia disertai dengan sifat jahat ?. Ketika Dia adalah Zat yang Maha mengetahui segala- galanya ,bagaimana kita tidak mengetahui apa yang kita lakukan ?. Teka - teki inilah yang menjadi karakteristik pemikiran Jalal ad- Din, yang selanjutnya ia temukan jawabannya tidak melalui pemikiran tetapi melalui perasaan, tidak melalui spekulasi teologis tetapi melalui pengalaman relegius. Kita dapat berpikir bahwa satu tidak ada artinya bila tidak ada dua,. Oleh karena itu segala sesuatu diciptakan dengan mempunyai pasangan atau lawan,hanya Tuhan yang tidak mempunyai lawan atau pasangan, yang keberadaan- Nya melibatkan segala sesuatu, dan sebab itu Tuhan berada di tempat yang tersembunyi. Kejahatan adalah berlawanan dengan kebaikan : diluar kegelapan diciptakan cahaya terang. Dari sudut ini kejahatan mempunyai nilai positif :  yakni bermanfaat bagi kehendak Tuhan, dan secara relatif adalah baik . Alasannya seperti terdapat dalam syair yang berusaha menyatukan antara kesedihan dan kesenangan.

Ketika menjawab argumen itu, Jalal ad- Din bersikeras bahwa segala tindakan kita, adalah benar- benar bebas sesuai dengan kemauan kita, meskipun berdampak pada kekuasaan Tuhan. Oleh sebab itu tidak beralasan  jika kita menuntut tanggung jawab Tuhan disebabkan tindakan kita.
Pemberian kebebasan itu ditolak oleh langit dan bumi, namun diterima oleh manusia dengan segala konsekuensinya.
Benar bahwa Allah telah mengurangi kejahatan agar kebaikan dapat terwujudkan; benar bahwa dalam dunia ini antara jiwa dan tubuh disatukan, dan kadang- kadang saling berseberangan ; namun juga benar bahwa orang baik juga mempunyai sifat jahat sejalan dengan peraturan Tuhan, dan manusia melakukan kesalahan dan dosa hanya sekedar menuruti hawa nafsu mereka sendiri. Jalal ad- Din sepakat dengan gagasan Prof. Webb dalam mendifinisikan dosa  sebagai " penyerahan diri yang sukarela terhadap naluri yang lebih rendah tatkala jalan yang lain ( jalan baik) terbuka. Namun hal yang paling mustahil  adalah bahwa segala kehendak manusia terlepas dari kehendak Tuhan, atau segala tindakan yang baik tidak terwujud tanpa pertolongan Allah. Hal senada pula  diperkuat oleh pemikiran Spinoza bahwa, melalui  perjanjian yang dirahasiakan , perintah alam semesta  didasarkan pada pengetahuan tentang "  apa"  dan tempat " apa"  yang dapat kita nikmati agar kebebasan manusia yang mempunyai nafsu perbudakan dapat hilang ' pengetahuan yang sebenarnya, menurut dia terletak pada  pengetahuan  yang menentukan akibat dari tindakan kita. Agama sebagai penyeimbang doktrin ini, sebagaimana ditegaskan oleh Jalal ad- Din : bahwa kebebasan dalan pengertian yang sebenarnya hanya terdapat dalan diri seorang yang benar- benar mencintai Allah ,yang mana kehendaknya bersatu dengan kehendak Allah. Sehingga kesatuan perasaan menjadi antitesis dari kebebasan dan kebutuhan yang hilang.



@ A.Ramadhan. / Gagasan Personalisasi dalam Sufisme / Reynold A. Nicholson.

0 komentar :

Poskan Komentar

Back To Top